Finansial Bukanlah Alasan untuk Mengorbankan Kesehatan

0
9
mengorbankan kesehatan untuk mencari nafkah siang dan malam
@Mr2EL/Twenty20

Sebagian orang diluar sana sangat gemar bekerja keras sampai-sampai lupa akan siang dan malam. Tidak ingat waktu bekerja yang sebenarnya, jadi sudah menjadi kebiasaan tersendiri. Tanpa disadari, mereka mengorbankan kesehatan diri untuk melakukan pekerjaannya demi memenuhi finansial yang baik. Padahal, biaya pengobatan akan kerusakan yang terjadi pada tubuh lebih mahal dibandingkan 2-3 bulan bekerja siang dan malam, (perhitungan UMR saat ini).

Bagaimana menurut anda? Mencari nafkah pada dasarnya untuk memenuhi finansial baik secara pribadi maupun keluarga. Bagaimana jika, keuangan yang anda kumpulkan dari jerih payah, harus dikeluarkan untuk mengobati penyakit yang timbul akibat pekerjaan yang terlalu over dan tidak mampu ditangkal oleh tubuh? pastinya bakalan merugikan banget kan.

Saat ini, di Indonesia sendiri masih menjadi mayoritas remaja yang menikmati masa-masa begadang untuk menghabiskan sisa malam dengan hiburan seperti bermain game, facebook-an, bekerja, dan berbagai macam hal lainnya. Termasuk saya sendiri nih, yang masih suka ikut begadang kalau udah ngumpul bareng teman, tanpa disadari jantung dan sistem tubuh lainnya turut jadi korban akibat kebiasaan tersebut.

Kerja untuk hidup, atau sebaliknya?

mencari tujuan hidup sebenarnya
@Oleg Magni/Pexels

Sebagian orang masih salah memahami arti sebenarnya mencari pekerjaan. Saya sampai pusing tujuh keliling, kok selama ini saya begitu mengejar-ngejar kebutuhan yang seharusnya gak pernah ada ya? Ya, semakin tingginya pemasukan maka kebutuhan hidup juga turut meningkat. Maka jangan heran kalau sampai lupa waktu demi mengejar angan yang tak sampai-sampai.

Demi meneruskan jenjang karir, ada orang yang mengorbankan kesehatan demi mencari 1%-5% kesempatan finansial yang membaik. Menurut saya nih, 08.00 – 18.00 sudah lebih dari kata cukup untuk mencari nafkah sambil mengisi ruang kosong yang ada di hati.

Sisa waktunya cukuplah buat istirahat, janganlah korupsi waktu sampai harus 24-48 jam bekerja non-stop. Robot aja mesti di charge kembali agar mampu hidup, kan gak mungkin nonstop melulu. Jadi kita yang manusia kenapa harus nonstop? Selain itu, jika sudah merasa cukup dengan kondisi finansial nya, tidaklah perlu terlalu mengejar sampai harus menjadi salah satu dari 10 Milyader di Dunia.

Cukuplah menjadi milyader di keluarga sebagai orang yang sukses finansial dan sudah mampu menjadi lebih baik. Sisanya tinggal diteruskan saja dan meminimalisir waktu yang terpakai.

Bagaimana menyikapinya?

Kesadaran diri! semua orang perlu sadar akan dirinya, jadi gak perlu nunggu diingatin sama orang lain. Apalagi yang udah gede-gede, kiranya bocah masih wajar di ingatin, lah ini udah jadi bapak orang. Nikmati waktu bekerja untuk bekerja, jangan sita lebih banyak waktu. Sisanya kan bisa nyantai bareng keluarga, istri, anak-anak dan lainnya.

Setelah finansial menjadi lebih baik, keharmonisan dalam keluarga harus dijaga. Menuntut ilmu? itu bukan alasan. Disela-sela pekerjaan anda tetap bisa mencuri-curi waktu 15-20 menit untuk mengisi ruang kosong dikepala anda dengan pengetahuan-pengetahuan baru atau sekedar mengingat kembali yang pernah anda pelajari.

  • Fix yourself before you do something.
  • Before to late, you must be ready!
  • C’mon, you’re have brave and can be awesome

Biasanya saya selalu menyemangati diri untuk menghindari pemborosan waktu. Secepat mungkin mengerjakan pekerjaan agar bisa beristirahat dengan nyaman tanpa halangan apapun lagi. Jam kerja saya cukup singkat sebagai pengangguran, 2-3 jam saja. Setelah itu, saya menikmati waktu bebas saya bersama game, watch anime like wibu, main sama kucing.

Mengorbankan kesehatan bukanlah jalan satu-satunya untuk memenuhi kebutuhan hidup. Apalagi kalau melarat, bela-belain begadang demi nunggu orderan yang belum pasti adanya, kebiasaan seller nih yang begini modelnya.

Gak perlu terlalu berharap juga, Insya Allah kalau memang rejeki, gak bakal ketukar kok. Jadi keep calm dan belajar sabar. Saya udah cape sama model yang diatas, nungguuuuuu sampe bosan akhirnya gak jadi, mending istirahat aja, besoknya eh ada orderan. Adem kan jadinya?

Bagaimana menurut anda? bekerja untuk hidup atau hidup untuk kerja? tidak ada bedanya dengan konsep hidup untuk makan atau makan untuk hidup.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here