Ilustrasi Pengalaman Membangun Agency
@Pixabay/Pexels

Membangun sebuah agency ternyata tidak semudah membalikkan telapak tangan. Berulang kali menyatukan ide head-to-head untuk mencari nama, filosifi, dan berbagai hal yang ingin terlihat profesional. Saya telah mengalami proses yang terbilang cukup lama dalam mencari sebuah nama, walaupun akhirnya tetap mengiyakan yang sepupu saya suka.

Walau bagaimana pun, nama sebuah agency merupakan label atau identitas yang menunjukkan siapa kita. Jadi kalau nama sembarang bakalan sulit banget menunjukkan siapa kita ke khalayak. Sebagai contoh, kita ingin membangun sebuah brand sepatu, namun nama yang kita pakai pisang. Apa yang terbesit dikepala orang-orang?

Begitupula sebaliknya, agency yang kita bangun harus jelas tentang apa, visi dan misi, pengembangan apa saja, semuanya harus dipikirkan dengan cermat. Hampir 2 tahun lamanya saya joinan sama sepupu, lumayan sudah out of zona aman. Jadi kami untung-untungan dan kejar tayang tuh sama yang namanya deadline, mulai dari ketipu programmer dan kehilangan data client, apes deh pokoknya, sampai ke client minta refund.

Namun disatu sisi, saya telah mengenal lebih dekat bagaimana bekerja sebagai konsultan di sebuah agency, asik sih walaupun manajemen masih amboradul. Namanya juga bayi coba membangun agency, ya sabar-sabar dulu. Untung belum coba nyewa properti dan kantor, baru juga gunakan alat seadanya dan cukup mendukung fasilitas kerja online.

Agency, menawarkan ‘solusi’ untuk perusahaan

Nyatanya, kami membangun agency dari keinginan orang-orang yang sedang disibukkan untuk memecahkan masalahnya. Alhasil, dengan ide-ide tersebut, kami mencoba menawarkan ‘solusi’ dengan cara menawarkan kemampuan yang kami miliki untuk menciptakan sebuah peluang baru.

Alhamdulillah, agency pertama ini cuma berhenti di pertengahan bulan pertama, sungguh mengecewakan.. namun ya rejeki berkata lain. Karena kurang pas, akhirnya nama dan semua aset saya jual ke teman sebelah, laku 😁

Mulai ke tahap selanjutnya, yaitu memikirkan sebuah nama yang cocok dengan filosofi yang kami buat-buat, eak. Akhirnya jatuh pada nama Vecrow, gagak hitam yang gagah, dengan logo menggunakan geometric style. Lagi dan lagi, rasanya seperti ada yang kurang di agency yang satu ini.

Kami mencoba untuk mengistirahatkan pikiran, badan, dan jiwa kami yang bisa terbilang hampir sepenuhnya terluka akibat ganti nama mulu. Dengan berat hati melelang kembali semua aset yang ada pada agency kedua ini.

What next’s?

Ya, selanjutnya saya membuat agency terakhir, yaitu Floenix yang telah diakusisi oleh Woko Wunggulan, seorang mentor yang sering dipanggil ‘Guru Mutan’ di Facebook. Awal cerita Floenix ini bisa terbilang lebih sukses 300% dibandingkan agency saya yang lainnya. Floenixx sudah memiliki latar belakang yang baik dan 9/10 client merasa puas.

Selain itu, di Agency ini saya mempunyai programmer asal daerah saya sendiri dan juga teman sekelas di SMK. Sayangnya, karena designer saya harus melanjutkan jenjang kuliah semester akhir, kami harus melanjutkan hibernasi sepanjang 1 tahun 2018.

How about 2019?

Belum tau pasti, rencananya kami bakalan buat produk sendiri dan sebuah team yang elit, dengan segala persiapan yang matang pula 😀. Setiap lika liku yang ada memang sangat membuat kami pusing, bahkan saya harus ekstra mengawasi setiap project sekaligus memanajemen keuangan, walaupun masih amburadul. Bisa dikatakan salah satu penyebab jatuhnya agency kami karena kurangnya perhatian di Marketing dan Manajemen.

Mungkin untuk 2019 ini, saya akan mencoba mengisi 2 ruang kosong tersebut dengan kemampuan dan pengetahuan yang cukup untuk mengelola sebuah agency kecil yang akan kami bangun nanti. Hope this stay awesome, see you next time!

Get in Newsletter

Bergabung menjadi salah satu pembaca setia saya!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*
*