Waspadai Fraud, Teror Pelaku Kejahatan di Internet

1
8
Pembeli Memegang Uang Kertas untuk Belanja
@Burst/Pexels

Semakin berkembang pesatnya teknologi, tidak dapat dipungkiri bahwa kejahatan selalu mengintai-intai kita disetiap kesempatan yang ada. Tak terkecuali di Internet itu sendiri. Dengan bermodal fasilitas perangkat keras dan jaringan internet saja, oknum-oknum peneror ini akan siap untuk menyerang anda kapan saja. Bahkan di Indonesia sendiri pelaku fraud memiliki ragam usia yang masih tergolong cukup muda.

Biasanya, usia para pelaku di Indonesia antara 13-23 tahun. Walaupun tergolong cukup muda, mereka tidak memiliki rasa iba untuk menyerang anda dimanapun anda berada. Tindakan yang dilakukan biasanya beragam, mulai dari peretasan situs, pembobolan kartu kredit, sniffing, menipu dan berbagai tindakan kriminal lainnya.

Saya sendiri pernah beberapa kali terkena tipu daya oleh para oknum yang memanfaatkan kondisi tertentu. Walaupun nominalnya tidak seberapa, yang namanya apes yang tetap saja bikin kesal. Dari pengalaman pribadi saya, mereka mencoba menekan kita disaat tertentu seperti berjualan situs, jasa, butuh uang cepat, barter, dan lain sebagainya.

Facebook to Market

Facebook merupakan sosial media terbesar yang ada saat ini. Mulai dari kalangan remaja sampai orang dewasa ikut nimbrung di sosial media ini. Saat ini, Facebook menjadi salah satu market andalan para marketer terlebih di Indonesia sendiri. Jadi tidak heran kalau banyak cheater berkeliaran di grup-grup atau tempat jualan anda.

POC (Proof of Concept)

Teknik yang mereka gunakan sangat sederhana untuk menipu korban. Biasanya, si pelaku akan sedia 2 atau lebih akun facebook untuk menyerang targetnya. Sebagai contoh, anda berjualan sebuah situs atau akun AdSense, pastinya anda butuh duit segar dong. Nah, si pelaku berkomentar dengan akun A untuk menggait si korban dan membawanya ke kandangnya. Setelah si korban terpikat, bisa saja pelaku menerkam atau bertransaksi melakukan rekber, (transaksi sekarang ini hampir semuanya menggunakan rekber). Nah, disini si pelaku melancarkan aksi keduanya dengan cara menggunakan akun B sebagai rekber (clone rekber sebenarnya, yang sering terjadi clonenya mas Tri Haryanto, Owner P-Store).

Percaya atau tidak, hal seperti ini sering terjadi, kalau kita tidak cekatan, pastinya bakalan merugi banget kan. Kalau orang buru-buru, abis di transfer/dikirimin bukti palsu sama si pelaku, korban akan kurang was-was dan langsung mempercayainya. Hal seperti ini memudahkan si pelaku untuk menerkam anda dari setiap sudut. Kalau sudah kehilangan ya mesti ikhlaskan saja ya kan, mau gimana lagi udah gak bakalan balik itu barang yang ilang.

Namun jangan risau, saya sudah mengetahui beberapa teknik pelaku yang dari dulu sampai sekarang masih digunakan, walaupun si pelaku update skills-nya juga. Ya namanya talenta, pastinya butuh upgrade dong ngikutin perkembangan zaman. Daripada panjang lebar basa basi, berikut cara antisipasinya.

cara menangkal fraud

Ketika anda ingin bertransaksi secara online baik itu di Facebook ataupun WhatsApp, pastikan terlebih dahulu siapa pembeli dan barang yang anda jual. Sebagai contoh, anda ingin menjual akun AdSense, pastikan bahwa akun tersebut aman 100% dari peretasan akun. Baiknya, akun ditambahkan nomor HP, email recovery, dan verifikasi 2 langkah.

  1. Pastikan siapa pembeli tersebut, apakah profilnya jelas atau tidak.
  2. Gunakan rekber agar transaksi terhindar dari penipuan yang merugikan.
  3. Jika bertransaksi menggunakan Facebook, jangan lupa kunjungi profil si pelaku agar mengetahui siapa dibalik akun tersebut.
  4. Jika pelaku tidak ingin bertransaksi menggunakan rekber dengan alasan ribet, mintai nomor rekening si pelaku dan cek di situs online Penipu milik mas Tri Haryanto atau Search Engine (Mesin Pencarian, Google).
  5. Jangan pernah mengirim barang atau sesuatu yang anda jual sebelum menerima transferan uang.
  6. Pastikan cek mutasi transferan uang, walaupun sudah di berikan bukti transfer oleh pembeli. Karena saat ini oknum jahat sudah mampu memanipulasi bukti transfer.
  7. Laporkan ke pihak berwajib atas penipuan online.

Dari poin-poin diatas, anda dapat mempelajari metode-metode yang digunakan oleh oknum untuk mencelakai targetnya. Jadi, anda perlu proteksi tambahan dan wawasan lebih untuk membentengi diri dari serangan oknum-oknum tersebut.

Artikel ini akan diupdate kembali di masa mendatang mengikuti perkembangan teknologi dan metode yang digunakan si pelaku.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here